Fajarpun menyingsing pada pagi 4 Juli 1187 M di puncak Hattin, terjadilah pertempuran dahsyat. Sayap kanan yang dipimpin Taqiyuddin mendapatkan serangan dahsyat dan hampir jebol oleh serangan pasukan salib pimpinan Raymond III Tripoli yang membabi buta dengan maksud mencapai mata air Hattin di utara. Taqiyuddin berinisiatif meloloskan pasukan Raymond III daripada membuat pasukan muslim banyak terbunuh dan sekaligus melemahkan pasukan salib dengan berkurangnya pasukan Raymond III.
Dan Raymond III berhasil lolos ke utara dan melarikan diri ke kota Tyre/Tyrus tanpa kembali ke kota istrinya Tiberias yang lebih dekat karena takut dijebak Sultan Shalahuddin. Pasukan salib pimpinan Guy of Lusignan dan Gerard De Ridefort semakin terdesak menuju puncak Hattin Utara dan pasukan infanteri pasukan salib sudah tidak bersemangat berperang karena haus. lelah, dan kesalahan strategi pemimpinnya. Di sebelah selatan yaitu dekat tanduk Hattin selatan, pasukan Templars pimpinan Balian D’Ibelin dapat melarikan diri ke Selatan menerobos kepungan Muzafaruddin Gokbori.
Pasukan Shalahuddin vs Pasukan Salib dengan salib sucinya di Medan Hattin
Akhirnya pasukan muslimin sayap kanan pimpinan Taqiyuddin berhasil merebut Salib Suci yang dipegang Uskup Besar Akre dan Uskup Lidde di tanduk Hattin utara. Hal ini membuat mental pasukan salib jatuh dan mulai tampak tanda-tanda kekalahan di mata mereka. Pasukan muslimin menjadi gembira, namun Sultan Shalahuddin berkata pada pasukannya agar jangan gegabah sebelum berhasil meruntuhkan Tenda Merah Besar Kerajaan Yerusalem di Tanduk Hattin. Dan akhirnya rubuhlah tenda merah besar itu dan berakhirlah Perang Hattin dengan kemenangan di pihak muslimin. Para pemimpin salib hampir semuanya ditawan kecuali Balian D’Ibelin, Raymond III Tripoli, dan Joscelyn de Courtnay . Para pemimpin yang ditawan adalah Guy of Lusignan sebagai Raja yerusalem, Reynaud/Reynald du Chattilon, Gerard de Ridefort, Uskup Lidde, Humphrey II de Toron, pemimipin ordo Hospitaller dll.
Kemudian Sultan Shalahuddin memenggal kepala sang penjahat Reynal du Chattilon dan membebaskan Raja Guy of Lusignan, Gerard de Ridefort dan yang lainnya.
Setelah mengalahkan pasukan salib maka pasukan muslimin terus menuju ke kota-kota dan benteng-benteng pasukan salib di wilayah Kerajaan Yerusalem untuk melakukan pengepungan dan penaklukan.
Dua bulan kemudian pada akhir bulan September (20-30 Sept 1187 M) pasukan muslimin mengepung kota Yerusalem. Shalahuddin mengerahkan segenap kekuatan mujahidin untuk menggempur benteng Palestina/Yerusalem. Barisan pelontar batu api (manjaniq) dikerahkan untuk meruntuhkan benteng Yerusalem. Balian de Ibelin juga balas melontarkan manjaniq-nya sehingga kaum muslimin menjemput syahid. Tekanan mujahidin begitu kuat, sehingga Balian mengirim dua orang utusan untuk meminta jaminan keselamatan dari Shalahuddin. Namun Shalahuddin menolak dan mengingakan mereka akan pembantaian besar yang mereka lakukan seratus tahun lalu di tahun 1099 M. Akhirnya Balian de Ibelin datang sendiri menghadap Shalahuddin dan mengancam akan membunuh semua manusia di dalam benteng, menghancurkan masjid Al-Aqsa, dan berjuang sampai mati, jika permohonannya tidak mendapat jaminan keamanan.
Setelah mengadakan syura/musyawarah dengan beberapa ulama dan penasihat militer, Shalahuddin menerima permintaan Balian de Ibelin. dan akhirnya takluklah Yerusalem pada tgl 2 Oktober 1187 M tanpa adanya pembantaian yang keji oleh pasukan muslimin terhadap kristen, dan hal ini bertolak belakang dengan takluknya Yerusalem oleh pasukan Salib tahun 1099 M dimana terjadi pembantaian keji terhadap muslimin oleh pasukan salib